Tampilkan postingan dengan label padepokan syekh siti jenar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label padepokan syekh siti jenar. Tampilkan semua postingan

Kesaktian Syekh Siti Jenar

Kesaktian Syekh Siti Jenar menjadi suatu hal yang banyak dibicarakan, dan dicari informasinya. Kesaktian Syekh Siti Jenar tentu sudah terdengar baik dari cerita dari buku-buku kuno, bahkan dalam film yang dipertontonkan. Kesaktian Syekh Siti Jenar sesungguhnya bukan karena memiliki banyak ajian ilmu gaib yang dipikirkan banyak orang. Kesaktian Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya menggunakan konsep ilmu leluhur jawa yang berasal dari budaya yang di islamkan, yakni ilmu sedulur papat lima pancer. Keilmuan ini justru dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga daripada Syekh Siti Jenar karena konsep keilmuan dari waliyullah yang satu ini tergolong lebih murni dan penerapannya lebih simple dengan pemahaman yang mudah dipahami. Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu sedulur papat lima pancer cukup dengan melafalkan kunci jangkungan yang disertai doa-doa islami.

Kajian Kitab Serat dan Suluk Syekh Siti Jenar

Buku ini merupakan sistematisasi dan rekonstruksi ajaran otentik Syekh Siti Jenar dalam nuansa mistik kejawen dan spiritualitas.

Catatan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, menunjukkan bahwa Islam tersebar luas kepada masyarakat Indonesia hingga saat ini berkat jasa besar para ulama dan auliya’, yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Walisanga. Sayangnya periwayatan mereka, hingga saat ini masih banyak didominasi oleh mitos dan hikayat, dan belum menunjukkan fakta sejarah serta ajaran yang betul-betul valid.

Di antara para wali yang paling mendatangkan kontroversi, dan paling banyak diselimuti kabut mitos adalah wali nyentrik, yaitu Syekh Siti Jenar. Kisah dan ajarannya sangat populer di masyarakat. Sayangnya, penulisan ajarannya secara utuh dan shahih belum banyak dilakukan.

Suluk Malang Sungsang

Syekh Siti Jenar itu tokoh yang kontroversial, saya pernah membaca buku selain karangan Agus Sunyoto, seperti Achmad Khojim dan A. Munir Mulkan mereka membahas obyek yang sama tapi dari sudut yang berbeda, tentu saja perbedaan tersebut dari nara sumber yang berbeda. Aku sekarang mencoba meresensi buku tentang Syeikh Siti Jenar karangan Agus Sunyoto. Buku karangan Agus Sunyoto ini terdiri dari seri satu sampai dengan seri tujuh. Suluk Malang Sungsang adalah seri pamungkas.

Agar bisa diikuti runut, maka saku coba ringkaskan trilogi pertama (Buku satu dan dua) dengan detail mengisahkan perjalanan yang ditempuh seorang salik – Abdul Jalil alias Syaikh Siti Jenar untuk mencapai maqam yang lebih tinggi, yakni menjadi orang yang dekat dengan Nya. Dalam buku satu dan dua tersebut diceritakan betapa berat perjalanan yang harus ditempuh Syaikh Siti Jenar untuk mencapai maqam tertinggi itu. Ia harus melewati tujuh Lembah Kasal, tujuh Jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Gunung Riya, dan tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub dan tujuh Benteng Hajbun.

Ajaran Jalan Kematian Menurut Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar beranggapan bahwa dunia ini adalah alam kematian. Maka, manusia yang hidup di dunia bersifat mayat atau bangkai. Kehidupan di dunia sekarang ini bukanlah kehidupan yang sejati, karena masih akan dihampiri oleh kematian.

Sedangkan hidup sejati adalah kehidupan yang sudah tidak tersentuh lagi oleh kematian. Hidup sejati adalah kehidupan yang tidak lagi menumpang pada badan wadah yang bisa tusak atau musnah. Kehidupan sejati tidak membutuhkan pemenuhan nafsu-nafsu badaniah.

Dalam al-qur’an terdapat pernyataan “Innaka mayyatun wa innahum mayyitun” (Sesungguhnya kamu itu hanya mayat, bangkai dan mereka pun hanya mayat (QS Al-Zumar : 30). Dalam al-qur’an dibedakan antara mayat dengan maut. Maut bermakna kematian, sedang mayat adalah benda yang mengalami kematian alias bangkai. Kata mayat juga terdapat dalam QS. 23: 15 dan 37: 58. Intinya sama, penekanan sifat mati, atau sebagai mayat, atau bangkai. Itu semua adalah penyandangan sifat kehidupan dan kematian manusia di dunia.