Tampilkan postingan dengan label suluk syekh siti jenar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suluk syekh siti jenar. Tampilkan semua postingan

Suluk Akhir Jaman - Syekh Siti Jenar

Suluk Akhir Jaman merupakan wejangan atau kaweruh tanda-tanda akhir jaman. Mungkin bicara istilah suluk, apa arti suluk tahukah anda? Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.
Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik. Kata suluk dan salik biasanya berhubungan dengan tasawuf, tarekat dan sufisme.

Kajian Kitab Serat dan Suluk Syekh Siti Jenar

Buku ini merupakan sistematisasi dan rekonstruksi ajaran otentik Syekh Siti Jenar dalam nuansa mistik kejawen dan spiritualitas.

Catatan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, menunjukkan bahwa Islam tersebar luas kepada masyarakat Indonesia hingga saat ini berkat jasa besar para ulama dan auliya’, yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Walisanga. Sayangnya periwayatan mereka, hingga saat ini masih banyak didominasi oleh mitos dan hikayat, dan belum menunjukkan fakta sejarah serta ajaran yang betul-betul valid.

Di antara para wali yang paling mendatangkan kontroversi, dan paling banyak diselimuti kabut mitos adalah wali nyentrik, yaitu Syekh Siti Jenar. Kisah dan ajarannya sangat populer di masyarakat. Sayangnya, penulisan ajarannya secara utuh dan shahih belum banyak dilakukan.

Suluk Malang Sungsang

Syekh Siti Jenar itu tokoh yang kontroversial, saya pernah membaca buku selain karangan Agus Sunyoto, seperti Achmad Khojim dan A. Munir Mulkan mereka membahas obyek yang sama tapi dari sudut yang berbeda, tentu saja perbedaan tersebut dari nara sumber yang berbeda. Aku sekarang mencoba meresensi buku tentang Syeikh Siti Jenar karangan Agus Sunyoto. Buku karangan Agus Sunyoto ini terdiri dari seri satu sampai dengan seri tujuh. Suluk Malang Sungsang adalah seri pamungkas.

Agar bisa diikuti runut, maka saku coba ringkaskan trilogi pertama (Buku satu dan dua) dengan detail mengisahkan perjalanan yang ditempuh seorang salik – Abdul Jalil alias Syaikh Siti Jenar untuk mencapai maqam yang lebih tinggi, yakni menjadi orang yang dekat dengan Nya. Dalam buku satu dan dua tersebut diceritakan betapa berat perjalanan yang harus ditempuh Syaikh Siti Jenar untuk mencapai maqam tertinggi itu. Ia harus melewati tujuh Lembah Kasal, tujuh Jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Gunung Riya, dan tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub dan tujuh Benteng Hajbun.

Suluk Syekh Siti Jenar

Tujuan tulisan ini adalah untuk mengambil hikmah terhadap beberapa ajaran Islam yang bergerak menjauhi poros ( Syari'at : Al-Qur'an dan Al-Hadits )
Tulisan ini memiliki hubungan erat dengan tulisan yang berjudul Ringkasan Agama.titik yang menjadi sorotan disini adalah adanya kemungkinan bahwa Islam terpengaruh ajaran yang berasal dari ajaran di luar Islam.tebtu saja hal ini tidak bisa di benarkan.karena tidak benar jika Syari'at Islam itu bisa menerima unsur-unsur tertentu dari ajaran lain.Islam sudah lengkap dan tidak perlu lagi di tambah dan di kurangi.
Dalam suluk Syech Siti Jenar ini kelihatan sekali bahwa pengaruh ajaran Hindu sangat kuat.inilah saya katakan dalam tulisan lain bahwa Islam itu mencoba dan mencaplok ajaran yang bukan berasal dari jalur Abrahamik.Islam mencaplok ajaran yang berasal dari Brahmanisme. dua induk agama ini memiliki perbedaan dan seharusnya tidak di campur aduk, pilih salah satu, Abrahamik atau Brahmanisme, kalau di campur, maka agama akan kehilangan identitasnya yang muncul kemudian adalah ajaran baru yang merupakan perpaduan konsep Abrahamik dan Brahmanisme.